STAY | BAB 10
- Rumiè Al-Hadi

- Feb 25, 2020
- 6 min read

“Terkadang aku ingin pulang ke daerah ini selamanya namun hakikat menjadikan daerah ini racun yang membunuh.” – Alya
DINGIN malam seakan mengigit lumat jiwa Alya kala ini. Kesunyian yang bercampur-baur bersama rindu dan dendam yang bercabang-cabang. Perit dan ngilu yang entah bila akan hilang. Kenangan-kenangan yang membunuh seluruh senyum daripada jiwanya. Perlahan-lahan airmata itu kembali gugur. Kamar sunyi ini, menjadi satu-satunya saksi kecamuk hatinya. Gelodak yang bagaikan bom jangka mampu meletup dan membunuh dirinya bila-bila masa.
Kelmarin Alya mengambil keputusan untuk mengambil cuti panjang dan pulang ke Greece. Kembali ke bandar Nafplio yang sudah lama ditinggalkannya. Rindu terhadap mama dan adik. Ya, rindu. Dia rindu untuk menyusuri Arvanitia Promenade dan menikmati lorong-lorong sempit berbatu serta bandar medieval lama. Sebahagian usianya dihabiskan di daerah indah penuh sejarah itu. Dia rindukan kenangan-kenangan manis di sini. Walaupun ada di antara kenangan-kenangan itu akhirnya menyebabkan dia berkelana jauh.
“Alya, dinner jom...” tegur mama sambil mengusap lembut kepalanya. Ya, dia rindukan suara mama. Lembut mendamaikan.
“You look thin. No food to eat or what over there,” seloroh adiknya, Adra.
“Am I? Tak adalah kurus sangat, kan mama?”
“Kurus. Betul cakap Adra tu.”
“You need to move on. I can find someone even better for you,” tempelak Adra lagi kerana sudah terlalu faham akan sifat kakaknya ini yang masih tidak sembuh daripada luka hatinya.
“Adra...” tegur mama agar perbualan sebegitu dihentikan.
“So, how long are you going to stay this time?” soal Adra lagi. Adiknya itu memang petah bercakap sejak kecil. Ada sahaja yang ingin disoal atau dijadikan bahan perdebatan.
“Two weeks.”
“Hopefully...” Adra seakan tahu jika tidak kena gayanya percutian selama dua minggu ini boleh saja disingkatkan bergantung kepada bagaimana Alya berhadapan dengan kecamuk di jiwanya sendiri.
“How’s your school?” cuba dialihkan bual adiknya sebentar tadi.
“I hate the lectures. This one week holiday is like a dream come true,” jawab Adra sambil menggayakan lagak betapa bersyukurnya dia dapat kembali ke sini.
“Pernah ke adik suka attend class? Esok teman Kak Aya ke Bourtzi.”
“Expenses on you?”
“Of cause lah...”
“Okay... on.”
Usai makan malam Alya kembali ke balcony menikmati keindahan malam. Kedudukan rumahnya yang berada di kawasan yang agak tinggi, membolehkan dia menikmati suasana malam di bandar Nafplio yang indah dilimpahi cahaya.
“Alya...”
Dia berpaling melihat mama yang datang menghampiri dan kemudian duduk disebelah. Bahu Alya durangkul dalam pelukan mama.
“Are you okay, sayang?”
“Alya okey mama, jangan risau.”
“It’s been years, Alya... I’m worried seeing you sad. Mama nak anak mama happy macam dulu. Kalau baba ada, dia pun mesti risaukan Alya”.
“Mama, Alya okey. Don’t worry.”
“You always say you are okay when you are actually not. Mama mungkin tak faham apa yang Alya lalui dan apa yang Alya rasa. Tapi mama tahu Alya tak gembira. Mama rindu anak mama yang dulu. Anak mama yang vibrant, carefree. Mama dah lama tak lihat anak mama yang dahulu. Mama rindu,” ujar mama sambil mengelus lembut rambutnya. Dia cuma mampu diam.
“Mama... Alya minta maaf. I just don’t know how to be my old self but I am okay, ma. I really do,” direnung jauh ke dalam mata mama cuba memberi keyakinan ke hati itu.
Mereka kembali diam menikmati keindahan malam sambil melayan perasaan masing-masing. Esok dia ingin kembali menyusur tempat-tempat yang pernah menjadi saksi peredaran usianya. Dia ingin bertemu Cyinthia, sahabat lamanya. Dia ingin bertemu Uncle Nikos teman baik baba yang sudah semakin dimamah usia.
Bandar Nafplio ini dirasakannya bagai satu kisah cinta seribu satu malam. Penuh sejarah yang menakjubkan. Dia ingin kembali ke tempat-tempat yang pernah menjadi saksi sebahagian kisah cintanya dahulu. Indah mengasyikkan. Satu ketika dahulu, di daerah ini, Sean menyatakan cinta dan melamarnya. Di daerah ini juga dia pernah menyemai kenangan bersama seorang sahabat.
Alya menyaksikan segala kenangan dan harapan itu lebur. Di mana nilai kasih seorang kekasih dan seorang sahabat berubah 360 darjah hingga menjadikan dirinya separuh gila. Semuanya di luar jangkaan dan jangkauan. Segala janji dan segala hormat yang dijunjungnya selama ini dibuang bagai sampah. Entah mengapa dia kembali ke daerah yang menyakitkan ini?
“Mama masuk tidur dulu ya, sayang. Jangan berjaga lama sangat, ya. Love you,” mama tiba-tiba bersuara memecah sunyi. Pipi Alya dicium dan tubuhnya dirangkul penuh kasih sayang. Dia cuma mengangguk dan membiarkan mama beredar ke biliknya.
Malam kembali sunyi. Sesekali angin dingin berhembus lembut. Di renung langit gelap. Telefon bimbit di meja sisi tiba-tiba berbunyi minta diangkat. Nombor yang tertera tidak dikenalinya tapi Alya tahu itu nombor talian tempatan. Mungkin Cyinthia agaknya.
“Hello, Cynthia...”
“Alya... is that you?” lidah Alya jadi kelu seribu bahasa ketika terdengar suara dihujung talian. Bagaimana dia tahu?
“Alya, it’s me, Izra. I know you are there.”
Suara dan wajah itu menerjah ruang ingatannya kembali. Menyesakkan jiwanya yang sudah sedia sesak. Insan yang satu masa dahulu sering ada dalam situasi apa pun. Insan yang sering ada menemani. Lidahnya kelu. Kelu untuk bersuara walau sepatah perkataan. Dia hanya mampu mendengar suara itu.
“Alya, where have you been? You left me just like that.”
Dia segera bingkas daripada duduk, mundar-mandir mengawal resah yang semakin bersarang. Saat ini, dia memang menyesal pulang kembali ke daerah ini.
“Alya, talk to me, please! Stop doing this. Do you still hate me and hope for Sean to come back? After what he did to you? Wake up! I love you. Can’t you see that? I know you do have feelings for me. I know you are afraid. But I am willing to make it right. Who knows you better than me, Alya? I’ve been searching for you all this while. I’ve waited for you till now,” rintih Izra menggoncang waras di benaknya.
“Stop! Stop it! Can’t you realise that I am not like you? I can never have a relationship with a woman. I just can’t. Did you realise how depressed you make me feel, Izra? Did you realise how bad it affected me? I can never tell anyone about the things that you did towards me. You are my best friend, for God sake! You took advantage of my situation. You pushed me to the brink of madness.”
“Alya...”
“No! I have had enough! Just stop, Izra. Stop. It’s been years. Just let me live. And one more thing, Izra, you don’t have the right to talk about Sean. I didn’t come back for the sake of anyone. Yes, you know what.. I do have feelings for you. I do love you, Izra. You are my friend. My best friend. The one that I trust. But I can’t give you the kind of love that you need from me. You took my trust the minute you kissed me that night! You don’t deserve even a friend’s love when you touch me that night! I have to live with that guilt and confusion all this while, did you know that? You betrayed me. You took advantage of my vulnerability. I don’t have that kind of feelings towards you, Izra. After all those years... I wonder, do you sincere to be my best friend or are you just doing it for the sake of your feelings, waiting for the opportunity?”
“You can tell that right to my face years ago, Alya. Instead of running away, leaving the unsolved things just like that. You could have told me the truth.”
“Tell you the truth? What truth? The truth is I am not into a woman. You knew that but no... you are too selfish. I have respected your lifestyle. I have respected your choice. I have done my part as your good friend all this while. I don’t have to explain anything! Not to you or anyone else. There were no unsolved issues between us because I don’t want to be in that issue you have created for me back then. Why can’t you see that?! I am running away from you because you never respect the only choice that I have chosen. You want me to tell you the truth... you should know better the minute I smacked your face when you touched me intimately. What more do you need?”
“And you think a guy like Sean will take good care of you? Do you think he didn’t take advantage of you? Are you blind? Do you remember what he did to you? I came that night because of what he did to you. I came to comfort you like I always do.”
“Even if he did me wrong that night, does that give you right to take advantage of me too, Izra?”
“Yes, I was wrong and I am so sorry but please...”
“No... we are done, Izra. I have had enough!” Dia segera mematikan talian, menukar setting agar nombor yang tertera itu dihalang masuk ke taliannya lagi.
Hati Alya benar-benar terganggu. Malam sunyi begini, menjadikan gelodak perasaannya bagaikan halilintar. Jika mampu, dia mahu lari daripada semua ini sekarang juga. Namun semakin kaki menjauh, semakin jiwanya tersepit dalam segala macam kenangan yang tidak sudah-sudah mengejarnya. Semakin cuba dilupakan, ia semakin galak menjengah. Hati Alya letih. Letih dengan segala macam bebanan perasaan yang semakin hari semakin menghitam di jiwanya. Airmatanya gugur lagi entah buat kali yang ke berapa.
“Kak Aya, what’s wrong?” Adra tiba-tiba menghampirinya yang sedang menangis sendirian. Entah sejak bila Adra melihatnya begitu. Adra segera memeluk tubuhnya, mengusap-usap belakang badannya.
“Kak Aya, sedih dengan apa yang Adra cakap tadi ke? I’m so sorry,” pujuk Adra lagi. Alya menggeleng-gelengkan kepala tetapi masih tidak mampu menampung sebak yang masih bersisa.
“Kalau Kak Aya rasa terlalu tertekan untuk balik ke sini, it’s okay for you not to. Jangan paksa diri Kak Aya. Nanti Kak Aya depress, jatuh sakit. It’s okay, Adra dan mama faham. Jangan paksa diri,” ujar Adra lagi.
Apabila tangisannya sudah semakin berkurang, direnung jauh ke dalam mata Adra. Dicium pipi adik kesayangannya itu dan dirangkul tubuh Alya di dalam pelukannya.
“Jom, tidur dengan Adra malam ni. Rindu,” Adra lantas bangun, mencapai tangannya agar turut bangun. Digenggam tangan Alya dan mereka beriringan ke bilik tidur. Alya tahu Adra tidak akan membiarkan dia tidur sendiri jika dia tertekan begini. Adakala dia merasakan dialah sebenarnya yang bergantung kekuatan jiwa dengan Adra, bukan sebaliknya.








Comments